Wawasan Kebangsaan

Wawasan Kebangsaan

            Wawasan berasal dari pangkal kata “wawas dan akhiran “an”. “wawas” mempunyai arti pandang, sedangkan “wawasan” berarti cara memandang, cara meninjau, cara melihat, cara tanggap inderawi. Dalam arti luas wawasan adalah cara pandang yang bersumber pada falsafah hidup suatu bangsa dan merupakan pantulan dari padanya yang berisi dorongan dan rangsangan di dalam usaha mencapai aspirasi serta tujuan nasional.

            Wawasan adalah cara pandang yang lahir dari keseluruhan kepribadin kita terhadap lingkungan sekitar, sifatnya adalah subyektif dan bisa kita pandang sebagai suatu rangkuman dan penerapan praktis dan pemikiran filsafat yang melatar belakangi cara pandang tersebut. Bangsa adalah kesatuan tekad dari rakyat untuk hidup bersama, mencapai cita-cita dan tujuan bersama terlepas dari perbedaan etnis, ras, agama, atau golongan asalnya. Kesadaran kebangsaan adalah pelekat yang akan memikat batin seluruh rakyat (Moerdion, 1995).

            Jadi, wawasan kebangsaan pada hakikatnya adalah hasrat yang sangat kuat untuk kebersamaan dalam mengatasi perbedaan dan diskriminasi. Dan wawasan kebangsaan tidak dilandasi oleh asal-susl, kedaerahan, suku, keturunan, status sosial, agama, dan keyakinan. Wawasan kebangsaan pada setiap warga negara juga bisa mengalami penurunan, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

      Semangat kebangsaan telah mendangakal atau terjadi erosi, terutama pada kalangan generasi muda

      Kekhawatiran ancaman disintegrasi kebangsaan seperti contoh pada negara Afrika yang paham kebangsaan merosot menjadi paham kesukuan

      Masyarakat dewasa ini, khususnya kaum muda tidak bangga atas negaranya sendiri, dan anti tradisionalisme (terpengaruh oleh gaya masyarakat modern yang berlebihan)

      Kurangnya pemahaman tentang kebangsaan pada hampir setiap masyarakat yang dengan kekurangan tersebut akan membuat rasa kebangsaan dan semangat untuk mencintai dan memajukan bangsanya menjadi berkurang

      Wawasan kebangsaan yang tidak ditegakkan membuat masyarakat menjadi bersatu, dan tidak mempunyai lagi rasa ke “bhinekaan” dan masyarakat cenderung untuk menjadi kaum yang individualis, bahkan sampai tingkatan kapitalis, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar

      Banyaknya perbedaan dalam hal kebangsaan yang penyelesaiannya berlarut-larut yang membuat tidak kokohnya suatu pondasi kebangsaan

sumber :