Tujuh Universitas Indonesia Kolaborasi dengan Empat Universitas di Eropa

Tujuh Universitas Indonesia Kolaborasi dengan Empat Universitas di Eropa

Tujuh Universitas Indonesia Kolaborasi dengan Empat Universitas di Eropa

Tujuh Universitas Indonesia Kolaborasi dengan Empat Universitas di Eropa
Tujuh Universitas Indonesia Kolaborasi dengan Empat Universitas di Eropa

Tujuh perguruan tinggi (PT) di Indonesia bekerja sama dengan empat perguruan tinggi dari Eropa,

untuk mencetak lulusan yang andal berwirausaha. PT dari Indonesia yang akan kerja sama dengan empat PT asing yakni Universitas Presiden, Universitas Padjajaran, Universitas Negeri Semarang, Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta), Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Brawijaya, dan STIE Malangkucecwara.

Sementara empat PT asing yang terlibat dalam kerja sama antara lain University of Gloucestershire (UK), Dublin Institute of Technology (Irlandia), Fachhochschule des Mittelstandes (Jerman),dan University of Innsbruck (Austria).

Khusus untuk kerja sama ini, dikatakan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Belmawa Ristekdikti) Ismunandar, Kamis (20/6/2019), akan dibentuk konsorsium lewat sebuah proyek yang disebut growing Indonesia a triangular approach (GITA).

Proyek ini akan didanai oleh Erasmus, sebuah komisi di Uni Eropa yang mendukung berbagai kegiatan

dalam bidang pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga di berbagai negara.

Ditegaskan Ismunandar, latar belakang kolaborasi PT Indonesia dan Eropa berkaca pada data Kementerian Perindustrian yang saat ini jumlah pengusaha di Indonesia sudah mencapai rasio 3,1% dari seluruh penduduknya. Rasio ini sudah melampaui standar internasional yang menetapkan angka 2%. Namun,untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju jumlah tersebut belum cukup. Maka, perlu dukungan dari perguruan tinggi untuk meningkatkan rasio pengusaha.

Sementara negara-negara tetangga punya rasio yang lebih tinggi dari Indonesia. Misalnya, Singapura ada 7% dari seluruh penduduknya yang menjadi pengusaha. Malaysia mencapai 5%. Di negara-negara kaya lainnya, seperti Jepang dan Amerika Serikat, ada lebih dari 10% penduduknya yang menjadi pengusaha.

Berkaca dari Inggris, misalnya, ada 27% dari lulusan Oxford University

yang menjadi pengusaha. Kampus lainnya, London Business School, ada 25% lulusannya yang memilih berwirausaha. Upaya semacam itulah yang tengah dilakukan oleh tujuh perguruan tinggi di negara ini guna mewujudkan visinya mencetak pengusaha-pengusaha baru.

“Kalau dari GITA secara pengawasan kewirausahaan itu menjadi pendidikan yang harus didorong. Itu harus dilakukan perguruan tinggi agar kampus tidak mencetak pengangguran,” kata Ismunandar saat diskusi bertajuk “Pendidikan dan Kewirausahaan dan Usulan Kebijakan bagi Perguruan Tinggi Indonesia”, di Gedung Kemristekdikti, Jakarta.

Menurut dia, adanya keterlibatan pihak lain untuk mengubah ekosistem pendidikan kewirausahaan tak bisa berjalan hanya di universitas saja. Harus ada pengawasan dari pemerintah dan keterlibatan komunitas.

 

Sumber :

http://riskyeka.web.ugm.ac.id/sejarah-rajapatih-makasar-kebo-parud/