Syarat-syarat Ijtihad

Syarat-syarat Ijtihad

Syarat-syarat Ijtihad

Syarat-syarat Ijtihad
Syarat-syarat Ijtihad

 

Syarat Ijithad

Di antara syarat-syarat ijtihad adalah :

1. Menguasai Ilmu Bahasa Arab

dari segi bahasa ,nahwu,sarf,balaghah,mantek dll.)dengan pemahaman di luar kepala ,agar bisa membedakan lafad yang khash dengan yang ‘am,yang haqiqat dengan yang majaz, yang mutasyabbih dengan yang muhkam dll.hal itu sangat di perlukan karena untuk memahami dan di jadikan dasar pengambilannya yaitu dari Al-Qur’an dan Al-hadits yangberbahasa Arab itu dan ia harus bisa memahamkannya sebagaimana pemahaman orang yang berbahasa arab.

2. Mengetahui nash-nash Al-Hadits

yakni menggetahui hukum syari’at yang di datangkan oleh Al-Hadits yang mampu mengeluarkan(istimbat) hukum perbuatan orang mukallaf dari padanya .Disamping itu ia harus mengetahui keadaan perawinya ,mana yang tsiqoh (terpercaya) hingga dapat di gunakan hujah khadits yang telah di nukil oleh dewan-dewan khadits.tetapi cukuplah jika ia sanggup menghimpun khadits-khadits yang berkaitan dengan masalah tertentu,seperti khadits yang berhubungan dengan bidang mu’amalat,ibadat dan munakahat dan jinayat dan tidak perlu untuk menghafal hadits secara keseluruan karena itu akan dirasa sulit dan memberatkan cukup penelaahan dalam khadits untuk menemukan khadits sahih yang di kehendaki untuk melakukan (istimbat) hukum.

3. Mengetahui qiyas

dari segi sayrat-saratnya ,rukun-rukunya, pembagianya, jalan menggetahui ilat dan pertentangan-pertentangan yang ada di dalamnya
Karena hal ini merupakan sumber atau akal dari ijtihad .dari sinilah, fiqih yang harus di pakai dalam beberapa masalah fiqih

4. Menggetahui hal-ikhwal

yang menjadi keapsahan suatu dalil seperti sayrat, batasan setematika dan tata urutanya

5. Menggetahui sumber-sumber terjadinya konsensus ulama (ijma’)

sehingga seseorang tidak sampai berfatwa menyalahi ijma’ tersebut.(sebagaimana hal ini merupakan pendapat para ahli ushul fiqih).
Menurut kami ,syarat ini berlaku dalam persoalan –persoalan yang telah di ketahui oleh para mujtahid awal,dan telah di beri keputusan hukumnya,serta kemudian di sepakati oleh mereka.jika demikian ,maka para ulama yang datang kemudian tidakboleh memutuskan hukum yang menyalahi keputusan
hukum yang telah di sepakati para ulama’ tersebut, karena bertentangan dengan konsensus yang ada .adapun persoalan-persoalan yang belum terjadi pada era mujtahid awal dan ingin di ketahui hukumnya melalui ijtihad,maka sarat ini tidak di perlukan,kecuali apabila persoalan baru tersebut memiliki keserupaan alasan atau (‘illat)hukum dengan fenomena yang lama sedang maksud dilakukanya ijtihad adalah untuk merubah hukum dari persoalan lama ke persoalanbaru maka dalam konteks yang demikian sarat menggetahui ijma’ tersebut mutlak diperlukan oleh mujtahid sebelum melakukan istimbaat hukum.

6. Mengerti tentang ‘nasikih dan mansukh

dalam al-qur’an maupun al-sunnah agar tidak sampai menghukum sesuatu dengan dalil mansukh yang telah di tingalkan .

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/