SUAMI MENCIUM ISTRI DAN MENYENTUH WANITA AJNABIYAH DAPAT MEMBATALKAN WUDHU’ DALAM MADZHAB SYAFI’I

SUAMI MENCIUM ISTRI DAN MENYENTUH WANITA AJNABIYAH DAPAT MEMBATALKAN WUDHU' DALAM MADZHAB SYAFI'I

SUAMI MENCIUM ISTRI DAN MENYENTUH WANITA AJNABIYAH DAPAT MEMBATALKAN WUDHU’ DALAM MADZHAB SYAFI’I

SUAMI MENCIUM ISTRI DAN MENYENTUH WANITA AJNABIYAH DAPAT MEMBATALKAN WUDHU' DALAM MADZHAB SYAFI'I
SUAMI MENCIUM ISTRI DAN MENYENTUH WANITA AJNABIYAH DAPAT MEMBATALKAN WUDHU’ DALAM MADZHAB SYAFI’I

 

Benarkah tidak ada dalinya bersentuhan kulit seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya membatalkan wudhu’ baik disertai syahwat ataupun tidak dan pendapat ulama’ yang berfatwa seperti itu dha’if seperti yang di ungkapkan oleh seorang pembimbing jama’ah ketika memberikan arahan pada jama’ahnya

Yuk kita renungi dan hayati dalil di bawah ini dan pendapat para ulama’ Madzhab Syafi’i agar kita nanti lebih berhati-hati menjaga lisan dan akan lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat ulama’ Madzhab yang Empat dan tidak memasukkan pendapat wahabiyyin dengan mendha’ifkan pendapat ulama’ sehingga seakan-akan ulama’ wahabiyyin adalah orang yang paling mengikuti dan paling memahami tentang Al-Qur’an dan Hadits

Atau kamu menyentuh wanita. [ QS. An-Nisa’ : 43 ]

Atau menyentuh wanita, lalu kamu tidak memperoleh air. [ QS. Al-Maidah : 6 ]

Lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri. [ QS. Al-An’am : 7 ]

Imam Syafi’i berkata

telah sampai kepada kami, dari Ibnu Mas’ud yang mendekati makna perkataan Ibnu ‘Umar dan apabila mengakibatkan seorang laki-laki menyentuh dengan tangannya kepada istrinya atau dengan sebagian tubuhnya bersentuhan pada sebagian tubuh istrinya tanpa adanya penghalang antaranya dan antara istrinya dengan Syahwat atau dengan tanpa Syahwat, maka wajib atasnya dan wajib atas istrinya berwudhu’ [ Kitab Al-Uum ]

Telah menceritakan kepadaku Yunus, Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahhab, Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah Bin ,’Umar, dari Nafi’ : Bahwa Ibnu ‘Umar berwudhu’ dari mencium istrinya dan terlihat dalam keadaan wudhu’ dan di katakan : Ibnu ‘Umar berwudhu’ dari menyentuh. Dan di riwayatkan Ibnu Abi Hatim dan juga Ibnu Jarir dari Jalur Syu’bah, dari Mukhariq, dari Thariq, dari ‘Abdillah, berkata : menyentuh tanpa berjima’ [ Kitab Tafsir Ibnu Katsir ]

Telah menceritakan kepadaku Yahya, dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim Bin ‘Abdillah, dari Ayahnya ‘Abdullah Bin ‘Umar : Bahwasannya beliau berkata : Ciuman laki-laki kepada istrinya dan tubuhnya menyentuh dengan tangannya adalah termasuk dari MULAAMASAH, barangsiapa mencium istrinya atau menyentuh dengan tangannya, maka wajib ia melakukan wudhu’. [ HR. Imam Malik ]

Penjelasan

Apabila bertemu kulit manusia laki-laki dan wanita yang bukan mahram yang mengundang Syahwat, dapat membatalkan wudhu’ yang menyentuh dari keduanya, sama saja ada yang menyentuh dari laki-laki atau dari wanita dan sama saja sentuhan itu dengan Syahwat atau tidak yang di ikutinya dengan rasa enak atau tidak dan sama saja sentuhan itu karena lupa atau disengaja dan sama saja berkelanjutan sentuhan itu atau ketika bertemu kulit dua manusia dan sama saja bersentuhan dengan anggota badan dari anggota badan yang tampak atau dengan yang lainnya, Maka semua itu membatalkan Wudhu’ disisi Madzhab Syafi’i

Sungguh telah di jelaskan bahwa Madzhab Asy-Syafi’i, jika bertemu kulit manusia ajnabi dan ajnabiyah akan batal wudhu’ dengan bersentuhan kulit laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa adanya penghalang dan sama saja dengan Syahwat atau tidak dan sama saja dengan sengaja atau tidak, maka jika ada penghalang walaupun tipis tidak dapat membatalkan wudhu’ dan inilah pendapat ‘Umar Bin Khattab dan ‘Abdullah Bin Mas’ud dan dan ‘Abdullah Bin ‘Umar dan Zaid Bin Aslam dan Makhul dan Asy-Sya’bi dan An-Nakha’i dan ‘Atha’ Bin As-Saib dan Az-Zuhri dan Yahya Bin Sa’id Al-Anshar dan Rabi’ah dan Sa’id Bin Abdul ‘Aziz dan merupakan salah satu dua riwayat dari Al-Auza’i dan Ahmad dan Ishaq

Maka, jika menyentuh rambut atau gigi atau kuku wanita atau menyentuh manusia belum baligh yang tidak mengundang Syahwat, maka tidak batal wudhu’nya, atas pendapat yang Ashoh

Tapi, jika laki-laki menyentuh wanita yang sudah meninggal atau menyentuh wanita yang sudah tua atau menyentuh anggota tubuh wanita yang cacat atau menyentuh organ tubuh tambahan atau bersentuhan tanpa Syahwat sama saja di sengaja atau tidak di sengaja, maka batal wudhu’nya dan begitu juga orang yang di sentuh, atas pendapat yang Shahih

Dan jika laki-laki bersentuhan dengan wanita ajnabiyah, maka batal wudhu’nya secara mutlak, atas pendapat yang Ashoh.

Sumber: https://www.dutadakwah.org/