Sejarah Peradaban Islam: Tantangan Islam Di Era Modernisasi

Sejarah Peradaban Islam: Tantangan Islam Di Era Modernisasi

Sejarah Peradaban Islam: Tantangan Islam Di Era Modernisasi

Sejarah Peradaban Islam: Tantangan Islam Di Era Modernisasi
Sejarah Peradaban Islam: Tantangan Islam Di Era Modernisasi

Masuknya Konsep Liberal Dalam Pemikiran Islam

Liberal sendiri secara bahasa berarti bebas. Paham ini pertama kali diterapkan dalam ranah social, politik dan pemerintahan. Namun lambat laun juga memasuki ranah pemikiran intelektual. Paham liberal awal yang pertama digagas oleh Yunani kemudian diambil oleh kaum Barat . Memasuk abad 17 dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang politik, keagamaan, politik, dan ekonomi dari tatanan moral, supranatural bahkan Tuhan. Dalam ranah agama, mereka berusaha untuk menghapus hak-hak otoritas Tuhan, kebenaran mutlak dan doktrin gereja harus dihapuskan, dan agama menjadi bersifat individual. Penyebabnya karena Barat merasa kebebasan mereka selama ini terus dikungkung dan dibatasi oleh doktrin dan kekuasaan gereja yang mengatasnamakan wakil Tuhan.

Namun sayangnya, paham yang berasal dari dunia Barat ini malah diambil dan diterapkan dalam Islam. Para sarjana-sarjana Islam yang dididik oleh kaum Barat malah terpesona dengan paham liberalisasi ini dan mengaplikasikannya dalam ranah pemikiran Islam. Ini tentu saja tak bisa diterima, sebab berbeda dengan Kristen yang mengkungkung kebebasan para pemeluknya, sebaliknya Islam menjamin kebebasan para pemeluknya sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan.

Dampak dari masuknya konsep liberal ini juga banyak. Munculnya pengingkaran terhadap semua otoritas, bahkan Tuhan dan agama. Sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan di luar dan diatas manusia yang mengikutinya secara liberal. Berkembang juga inklusifisme agama. Menurut kaum liberal, kita sekarang tak bisa mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, begitu juga dengan mengatakan bahwa Kristen adalah satu-satunya agama yang benar juga. Dan juga kita tak bisa mengatakan bahwa agama selain itu adalah salah. Menurut mereka semua agama adalah sama, agama-agama bisa berbeda dalam ranah hukum dan syariatnya, tetapi tetap menuju Tuhan yang satu. Agama-agama pada ranah eksoteris bisa berbeda,tetapi pada ranah esoteris sama-sama menuju satu Tuhan yang sama. Dengan kata lain mereka menolak sifat eksklusif dalam suatu agama. Inilah yang akan menjadi dasar dari paham pluralisme beragama.

Ilmu-Ilmu Sosial Menjadi Patokan Utama Dalam Dunia Pendidikan

Masuknya ilmu-ilmu social dalam dunia pendidikan juga menjadi problematika sendiri, dimana dengan masuknya ilmu-ilmu tersebut semakin menyingkirkan ilmu-ilmu agama dalam dunia pendidikan. Bahkan ilmu-ilmu social juga digunakan untuk memahami suatu agama. Hal ini berkonsuensi bahwa Islam diposisikan sama dengan agama-agama lainnya yang ada. Islam hanya dipandang sebagai objek ilmu pengetahuan, terlepas dari berbagai macam konsep, struktur, dan aturan dalam Islam sendiri.
Ilmu-ilmu social yang sejak awalnya digunakan untuk memahami kondisi social suatu masyarakat, pada akhirnya digunakan juga untuk membedah dan memahami suatu agama. Maka muncullah dengan ini ilmu-ilmu baru seperti sosiologi agama, psikologi agama, dan antropologi agama.

Kendala Dalam Memahami Bahasa Arab

Muncul anggapan dalam masyrakat sekarang bahwasanya bahasa Arab tidak mengandung signifikansi lagi,atau unexpected dan tak profitable lagi. Hal ini disebabkan bahwa mereka memahami bahasa arab bukanlah bahasa peradaban dan intelektual, melainkan hanya sebatas bahasa ritual atau agama. Sehingaa menjadikan masyrakat sekarang enggan untuk mendalami dan belajar bahasa arab. Padahal bila kita mengkaji lebih dalam lagi, bahasa Arab memiliki peran yang sangat signifikan dalam gerakan intelektual. Periode penerjemahan berbagai macam cabang ilmu dari bangsa lain seperti Yunani ke dalam bahasa Arab gencar dilakukan oleh ilmuiwan-ilmuwan muslim seperti Al Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain sebagainya. Mereka semua menerjemahkan karya-karya berbahasa asing tersebut,kemudian menyaring dan memverifikasinya lagi, barulah hasilnya dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih luas. Ini jelas berlawanan dengan anggapan sebagian orang diatas, bahwa pada hakikatnya bahasa Arab mempunyai konstribusi yang besar dalam ranah intelektual dan pengetahuan.

Baca Juga: