Psikologi Humanistik

Psikologi Humanistik

Psikologi Humanistik

Psikologi Humanistik

Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi  ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relatif masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yang relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan hal-hal yang bersifat positif tentang manusia (Rachmahana, 2008).

Aliran psikologi humanistik sangat terkenal dengan konsepsi bahwa esensinya manusia itu baik menjadi dasar keyakinan dan menghormati sisi kemanusiaan. Psikologi humasnistik utamanya didasari atas atau merupakan realisasi dari psikologi eksistensial dan pemahaman akan keberadaan dan tanggungjawab sosial seseorang. Dua psikolog yang ternama, Carl Rogers dan Abraham Maslow, memulai gerakan psikologi humanistik perspektif baru mengenai pemahaman kepribadian seseorang dan meningkatkan kepuasan hidup mereka secara keseluruhan (Danim, 2011).

Menurut Danim (2011), ketika perang pecah di tahun 1960-an, dunia merasa terdorong untuk lebih memahami sifat kemanusiaan. Pandangan humanistik menginisiasi sebuah mekanisme untuk memahami apa memamng individu lebih cenderung ingin melibatkan diri dalam konflik atau mewujudkan perdamaian. Kemudian muncul pemikiran bagaimana secara humanis dibangun mekanisme untuk mereduksi semangat memancing konflik ke menciptakan perdamaian. Teori ini dipandang sebagai “teori sederhana” dan telah menjadi populer, serta topik favorit didalam keseluruhan seni membantu diri sendiri atau self help. Selain itu, perjuangan umat manusia untuk memperoleh pemahaman yang lebih besar akan arti hidup serta eksistensinya merupakan landasan konflik abadi dalam panggung dan seni kehidupan. Premis psikologi humanistik sesungguhnya humanistik sederhana. Pemikiran yang sederhana atau menyederhanakan pikiran tentang esensi kesadaran manusia ini pulalah yang menjadi sumber


penentangan aliran ini. Penganut humanis mematuhi keyakinan ini sebagai aspek yang paling signifikan mengenai seseorang seperti berikut ini.

  1. Humanis menekankan kondisi disini dan sekarang, bukan memeriksa masa lalu atau mencoba untuk memprediksi masa depan.
  2. Individu secara mental sehat, dia mengambil tanggungjawab pribadi atas tidakannya, tidak peduli apakah tindakan tersebut positif atau negatif.
  3. Setiap orang secara inheren ingin dan berniat untuk berbuat baik. Kalaupun tindakan tertentu yang dilakukannya mungkin negatif atau ditafsirkan negatif, tindakan itu tidak membatalkan nilai mereka sebagai pribadi.
  4. Tujuan akhir hidup adalah untuk mencapai pertumbuhan dan pemahaman pribadi yang bahagia. Individu secara konstan berusaha memahami dan memperbaiki diri menuju kondisi terbaiknya.

Psikologi humanistik, bukan semata-mata berfokus pada kehendak bebas individu, pertumbuhan pribadi, dan aktualisasi diri. Pemikir humanis seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers. Maslow (1954) mengatakan psikologi humanistik sebagai generasi ketiga dalam psikologi.

Pada tahun 1950-an psikologi humanistik muncul sebagai reaksi terhadap psikoanalisa dan behaviorisme yang mendominasi aliran psikologi. Psikoanalisis difokuskan pada pemahaman motivasi bawah sadar yang mendorong perilaku, sementara behaviorisme mempelajari proses pengkondisian yang menghasilkan perilaku. Psikologi humanistik bukan difokuskan pada potensi masing-masing individu dan menekankan pentingnya pertumbuhan dan aktualisasi diri. Kepercayaan dasar psikologi humanistik adalah bahwa bawaan orang-orang sejatinya baik, kondisi sosial dan lingkungan alamlah yang mendorong lahirnya penyimpangan (Danim, 2011).

Menurut Schultz dan Schultz (2001), ciri-ciri dan tujuan psikologi humanistik adalah:

  1. Memusatkan perhatian pada pribadi yang mengalami dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena dalam mempelajari manusia.


  1. Menekankan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti memilih, kreativitas, menilai, dan realisasi diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistik dan reduksionistik.
  2. Menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan serta menentang penekanan yang berlebihan pada objektivitas yang mengorbankan signifikansi.
  3. Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu.

baca juga :