Penjelasan Mengenai Khouf (takut), Roja’ (harap) & Mahabbah

Penjelasan Mengenai Khouf (takut), Roja’ (harap) & Mahabbah

Penjelasan Mengenai Khouf (takut), Roja’ (harap) & Mahabbah

Penjelasan Mengenai Khouf (takut), Roja’ (harap) & Mahabbah
Penjelasan Mengenai Khouf (takut), Roja’ (harap) & Mahabbah

Khauf

adalah suatu sikap mental yang merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdianya. Takut dan kawatir kalau Allah tidak senang kepadanya. Menurut Ghozali Khauf adalah rasa sakit dalam hati karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak disenagi dimasa sekarang.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia takut berarti gelisah, khawatir (kalau….). Pada hakikatnya, bahwa takut itu ibarat dari kepedihan dan kebakaran hati, disebabkan terjadinya yang tidak disukai pada masa depan.
Al-Wasithi mengatakan pula : “apabila lahirlah kebenaran kepada rahasia, niscaya tidak ada lagi padanya keutamaan bagi harap dan takut”. Kesimpulannya, bahwa orang yang mencintai, apabila hatinya sibuk menyaksikan yang dicintai, dengan takut berpisah, niscaya adalah yang demikian itu kekurangan pada penyaksian kepada Allah. Dan sesungguhnya keterus-menerusan penyaksian itu maqom (tingkat) yang pehabisan.
Keutamaan takut itu, menurut kadar yang membakar nafsu-syahwat. Dan menurut kadar yang mencegah perbuatan-perbuatan maksiat dan yang menggerakkan kepada perbuatan tha’at, menurut tingkatannya. Allah SWT berfirman :
رضى الله عنهم و رضوا عنه ذالك لمن خشى ربه _البينه_8
“Allah ridla (senang) kepada mereka dan mereka ridla kepada Allah. Itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.(QS. Al-Bayyinah : 8)
Setiap apa yang menunjukkan kepada keutamaan ilmu itu menunjukkan kepada keutamaan takut. Karena takut itu buah dari ilmu.

b. Roja’ (harap)

Raja’ dapat berarti berharap atau optimisme, yaitu perasaan senang hati karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Raja’ atau optimisme ini telah ditegaskan dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Al-Baqarah: 218).

Menurut kalangan kaum sufi, raja’ dan khauf berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja’ dapat berarti berharap atau optimisme, yaitu peresaan senang hati menaati sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Orang yang harapan dan penantiannya mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, berarti harapannya benar. Sebaliknya, jika harapannya hanya angan-angan, semenatara ia sendiri tenggelam dalam lembah kemaksiatan, harapannya sia-sia.
Ketahuilah kiranya, bahwa amal atas harap itu lebih tinggi daripada takut. Karena hamba yang paling dekat kepada Allah Ta’alaitu yang paling mencintai-Nya. Dan cinta itu dikerasi dengan harap.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

c. Mahabbah

Mahabbah berasal dari kata ahabba-yuhibbu-mahabbatan yang berarti mencintai secara mendalam. Mahabbah pada tingkatan selanjutnya dapat diartikan suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan terwujudnya kecintaan yang mendalam kepada Allah. Berkaitan dengan konsep mahabbah, Rabi’ah al-Adawiyah adalah peletak dasar mahabbah ini. Mahabbah dalam pandangan Rabi’ah adalah cinta abadi kepada Allah yang melebihi cinta kepada siapa pun dan apapun. Cinta abadi yang tidak takut kepada apa saja, bahkan neraka sekalipun. Sebagaimana dalam syair Rabi’ah yang berbunyi:

“Kujadikan Engkau teman percakapan hatiku, Tubuh kasarku biar bercakap dengan insani, Jasadku biar bercengkrama tulangku, Isi hatiku tetap pada-Mu jua.”

Menurut Rabi’ah al-Adawiyah, Allah adalah salah satu yang seharusnya dicintai dan Dialah tujuan akhir dalam pencarian cinta yang abadi. Untuk menggapai kecintaan Ilahi, maka seorang sufi harus melatih dirinya untuk mencintai segala keindahan alam seisinya. Karena keindahan adalah ciri dari zat yang dicintai. Bagi Rabi’ah, rasa cinta kepada Allah menjadi salah satu motivasi dalam setiap perilakunya dan sekaligus merupakan tujuan pengabdiannya kepada Allah. Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan; “Aku mencintai-Mu dengan dua dorongan cinta, cinta-rindu, karena aku menginginkan-Nya dan cinta karena Engkau patut mendapatkannya. Cinta-rindu menenggelamkan diriku untuk selalu mengingat dan menyebut-Mu. Cinta rindu membuatku lupa dengan orang yang selain yang kucinta, sedangkan cinta karena Engkau pantas dicintai adalah keterbukaan-Mu dari tirai penghalang sehingga aku dapat melihat-Mu dengan terang benderang. Aku tak pantas mendapatkan pujian untuk cinta pertama dan cinta kedua, tetapi segala puji untuk-Mu belaka pada cinta pertama dan cinta kedua.