Pengertian dan Ruang Lingkup Ijtihad

Pengertian dan Ruang Lingkup Ijtihad

Pengertian dan Ruang Lingkup Ijtihad

Pengertian dan Ruang Lingkup Ijtihad
Pengertian dan Ruang Lingkup Ijtihad

Pengertian Ijtihad

Ijtihad berasal dari bahasa arab yaitu “Jahada” yang mempunyai arti mencurahkan segala kemampuan untuk mendapatkan sesuatu(yang sulit),dan dalam praktek agamanya berarti ijtihad di gunakan pada masalah yang sulit di cari hukum dalam syari.
Dan ulama ada yang menafsiri yang dinamakan ijtihad adalah “Al-Mubalaghah fi al yamin”yang memiliki arti berlebih lebih dalam bersumpah. Dengan demikian arti ijtihad adalah pengerahan segala kesangupan dan kekuatan untuk memperoleh apa yang dituju sampai batas puncaknya.

Dalam mengartikan kata ijtihad antara satu ulama dengan ulama lainya saling berbeda pendapat salah satunya ibrahim husen beliau mengenai makna ijtihad beliau mengidentikan antara kata istinbat sedangkan arti istinbat sendiri yaitu mengeluarkan sesuatu dari persembunyianya.

Adapun ijtihad dalam terminologi ahli fiqih adalah pencurahan seseorang atas totalitas kemampuan dan tenaganya untuk memperoleh hukum syariat yang peraktis dengan cara menggalinya (istinbat) dari dalil-dalil shar’iy. makna terminologis yang demikian merupakan tema pembicaraan kami disini.sedangkan mujtahid adalah seseorang yang diberi kemampuan akal yang cermelang sehinga dengan modal tersebut ,ia mampu menggeluarkan hukum syari’ah yang peraktis dari dalil-dalilnya yang terperinci.kemampuan demikian tidak akan di peroleh kecuali orang-orang yang memenuhi kerteria ijtihad yang akan di bicarakan pada bab berikutnya.

Ruang Lingkup Ijthad

Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjuk oleh dalil sharih yang (qath’iyul wurud) pasti datangnya dari syari”dan (qath’iyud) pasti penunjuknya kepada makna tertentu ,maka tidak ada jalan untuk di ijtihatkan,sebab selama nash itu qath’iyul wurud, maka kepastian dan kehadirannya dalil-dalil itu dari sisi Allah atau Rasulnya bukan lagi menjadi ajang pembahasan dan berijtihad dalalah makna dan ketetapan hukumnya. Misalnya firman Allah

Artinya :
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

Maka jumlah hukum jilidnya yang seratus kali itu tidak dapat dijihatkan lagi.
Adapun ruang lingkup ijtihad diperkenankan terhadap teks-teks (nas-nas)yang memiliki kerelatifan ketetapan (zanni al thubut) seperti sebagaian hadits-hadits nabi yang oleh kalangan ahli hadits tertentu di perbincangkan mengenai sanad dan matanya dari segi apakah bisa di sebut hadtis sahih,hasan,atau da’if atau kasjian-kajian lainya yang berhubungan dengan al-sunnah al-nabawiyah. Di samping itu ijtihad juga di perkenankan terhadap nas-nas yang mengandung kerelatifan dalil (zannial-dilalah) seperti sebagian ayat-ayat al-qur’an dan

hadits-hadits nabi yang dalam memahaminya terdapat beraneka ragam, pendapat sesuai tingkat pemahaman terhadap susunan bahasa atau dalil-dalil shar’iy
Contoh : dalam firman Allah

Yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur..

Setiap muslim mengakui dan percaya bahwa ayat ini berasal dari Al-Qur”an yang berarti qat’iy al-thubut.Perbedaan pendapat mulai muncul ketika seseorang memahami sebagaian lafadz ayat tersebut dan rangkaina katanya.Misalnya terhadap kata “ وامسخوا برؤسكم “. Para ahli fiqih bersepakat bahwa ‘Mengusap kepala’ merupakan bagian sdari rukun wudhu (bersuci dari khadats kecil),sebagai mana dalil yang di tunjukkan secara eksplisit(mantuq) oleh rangkain kata ayat tersebut.hanya saja kemudian fuqaha’ berbeda pendapat dalam menentukan kadar atau batasan ‘mengusap ini’.

Kelompok pertama

berpendapat bahwa ‘mengusap’yang di maksud dalam ayat tersebut adalah ‘mengusap seluruh bagian wajah dengan pemahaman bahwa huruf (ba’) dalam rangkaian kata ayat tersebut adalah “sillah (kata penghubung)sehinga kira makna dalam ayat tersebut adalah “ومسخوا برؤاسكم” [6]

Kelompok kedua

berpendapat bahwa tidak menentukan batas ‘mengusap’dengan batasan tertentu, sedang sebagian lainya membatasi dengan seperempat kepala .Masing-masing kelompok mempunyai argumen sendiri-sendiri sebagai mana telah di jabarkan dalam kitab fiqih
Alhasil ijitihat itu berlaku pada nas-nas yang(zanniy al-thubut) kerelatifan ketetapan dan (zanniy al-dilalah) kerelatifan dalil.adapun nas-nas yang memiliki kepastian ketetapan dan dalil (qat’iy al-thubut wa al-dilalah) maka di dalam nya tidak adaruang ijtihat.

Baca Juga: