Pembagian Harta dalam Islam

Pembagian Harta dalam Islam

Pembagian Harta dalam Islam

Pembagian Harta dalam Islam
Pembagian Harta dalam Islam

Ulama fiqih membagi harga menjadi beberapa bagian yang setiap bagiannya berdampak atau berkaitan dengan beragam hukum (ketetapan) namun, pada bahasan ini hanya akan dijelaskan beberapa bagian yang masyhur.

Harta Muttaqawwin dan Ghair Muttaqawwin

a. Harta muttaqawwin

“Segala sesuatu yang dapat dikuasai dengan pekerjaan dan dibolehkan syara’ untuk memanfaatkannya, seperti macam-macam benda yang tidak bergerak, yang bergerak, dan lain-lain.”

b. Harta ghair muttaqawwin

Artinya : “Sesuatu yang tidak dapat dikuasai dengan pekerjaan dan dilarang syara’ untuk memanfaatkannya, kecuali dalam keadaan madarat, seperti khamar.”
Menurut ulama Hanafiyah, keduanya dipandang sebagai harta muttaqawwin oleh nonmuslim. Oleh karena itu, umat Islam yang merusaknya harus bertanggung jawab. Adapun menurut ulama selain Hanafiyah, harta ghair muttaqawwin tetap dipandang muttaqawwin, sebab umat non-muslim yang berada di negara Islam harus mengikuti peraturan yang diikuti oleh umat Islam. Dengan demikian, umat Islam tidak bertanggung jawab jika merusaknya.

Baca Juga: Rukun Iman

Faedah Pembagian

a. Sah dan Tidaknya Akad

Harta muttaqawwin sah dijadikan akan dalam berbagai aktivitas, muamalah, seperti hibbah, pinjam-meminjam, dan lain-lain, sedangkan harta ghair muttaqawwin tidak sah dijadikan akad dalam bermuamalah. Penjualan khamar, babi, dan lain-lain yang dilakukan oleh umat Islam adalah batal. Adapun pembelian sesuatu dengan barang-barang haram adalah fasid. Hal ini karena penjualan merupakan syarat terjadinya jual beli, sehingga batal, sedangkan harga adalah wasilah terjadinya akad, yakni syarat sah dalam muamalah sehingga fasid. Pendapat ini dikemukakan ulama Hanafiyah.

b. Tanggung Jawab Ketika Rusak

Jika seseorang merusak harta muttaqawwin, ia bertanggung jawab untuk menggantinya. Akan tetapi, jika merusak ghair muttaqawwin, ia tidak bertanggung jawab. Menurut ulama Hanafiyah, dalam hal merusak ghair muttaqawwin, ia tetap bertanggung jawab sebab harta tersebut dipandang muttaqawwin oleh nonmuslim. Selain Hanafiyah berpendapat bahwa, harta ghair muttaqawwin tetap dipandang muttaqawwin sebab umat nonmuslim yang berada di negara Islam harus mengikuti peraturan yang diikuti oleh umat Islam.

Harta ‘Aqar dan Manqul

Dalam mendefinisikan ‘aqar dan manqul, ulama fiqih berbagi dua.

a. Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah:

1. Manqul

“Harta yang dapat dipindahkan dan diubah dari tempat satu ke tempat lain baik tetap pada bentuk dan keadaan semula ataupun berubah bentuk dan keadaannya dengan perpindahan dan perubahan tersebut. Hal ini mencakup uang, barang-dagangan, macam-macam hewan, benda-benda yang ditimbang dan diukur.”

2. ‘Aqar

“Harta tetap, yang tidak mungkin dipindahkan dan diubah dari satu tempat ke tempat lain menurut asalnya, seperti rumah, dan hal-hal yang membumi.”
Menurut ulama Hanafiyah, bangunan dan tanaman menurut ulama Hanafiyah tidak termasuk ‘aqar, kecuali kalau keduanya ikut pada tanah. Dengan demikian, jika menjual tanah yang diatasnya ada bangunan atau pohon, bangunan dan pohon tersebut atau hal-hal lain yang menempel di tanah tersebut dihukumi ‘aqar. Sebaliknya, jika hanya menjual bangunan dan pohonnya saja, tidak dihukimi ‘aqar sebab ‘aqar menurut ulama Hanafiyah hanyalah tanah, sedangkan selain itu adalah harta manqul.

b. Menurut ulama Malikiyah

Ulama Malikiyah menyempitkan cakupan manqul dan memperluas pengertian ‘aqar, yaitu :
”Manqul adalah harta yang dapat dipindahkan dan diubah dari satu tempat ke tempat lain, dengan tidak merubah bentuk dan keadaannya seperti pakaian, buku, dan sebagainya. ‘Aqar adalah harta yang tidak dapat dipindahkan dan diubah pada asalnya, seperti tanah, atau mungkin dapat dipindahkan dan diubah dan terjadi perubahan pada bentuk dan keadaannya ketika dipindahkan, seperti rumah dan pohon. Rumah setelah diruntuhkan berubah menjadi rusak, dan pohon berubah menjadi kayu.”

Faedah Pembagian

Di antara faedah pembagian harta menjadi ‘aqar dan manqul pada hukum antara lain:
a. Menurut ulama Hanafiyah, tidak sah wakaf, kecuali pada harta ‘aqar atau sesuatu yang ikut pada ‘aqar. Sebaliknya jumhur ulama, berpendapat bahwa harta ‘aqar dan manqul dapat diwakafkan.
b. Imam Abu Hanifiyah dan Abu Yusuf, dengan menyalahi ulama fiqih lainnya, berpendapat dibolehkan menjual ‘aqar yang belum diterima atau dipegang oleh pembeli pertama, sedangkan manqul dilarang menjualnya sebelum dipegang atau diserahkan kepada pembeli.