Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya’ & Ujub)

Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya' & Ujub)

Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya’ & Ujub)

Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya' & Ujub)
Media Sosial Berdampak Penyakit Hati (Riya’ & Ujub)

Media Sosial khususnya Facebook selain memiliki sisi dampak positif, juga memikiki dampak negatif. Salah satu sisi negatif Facebook dan sosial media lainnya adalah menyuburkan sikap Riya’ atau ingin dipuji orang lain dan Ujub yaitu berbangga diri atau pamer.

Penyebabnya adalah populernya istilah dan perilaku yang sering disebut Narsis atau Selfie.
Narsis atau Narsisisme berasal dari bahasa Inggris atau narsisme yang berasal dari bahasa Belanda yang artinya adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang terlalu berlebihan.
Selfie dalam istilah bahasa indonesia Indonesia yaitu Swafoto. foto narsisis adalah jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon genggam atau HP.

Riya’ dan Ujub termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam dan wajib dijauhi oleh setiap Muslim. Keduanya adalah termasuk akhlak tercela (akhlaqul madzmumah).
Kali ini kita akan mengulas lebih dalam tentang makna Riya’ dan Ujub yang juga menjadi fenomena tersendiri di kalangan pengguna media sosial yaitu para remaja, terutama para pengguna Facebook.

Banyak Facebooker yang mengupdate status yang menyatakan bahwa dirinya baru saja melakukan sebuah amal ibadah, misalnya, membuat status “habis buka puasa nih” atau mempublikasikan amal ibadah dan kebaikan lainnya. Tidak sedikit orang yang pamer kekayaan seperti rumah, mobil, HP, dll. dan hal ini sangat potensial sekali menjadi sikap ‘Ujub.

PENGERTIAN RIYA’

Arti Riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia dan/atau melakukan ibadah atau kebaikan dengan disertai niat ingin dipuji manusia –tidak ikhlas berniat semata-mata karena Allah SWT.
Pengertian Riya’ menurut para ulama:
Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu (Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Baari).
Riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. (Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin)
Dengan demikian, Riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia, dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain, dengan harapan agar orang lain memberikan pujian atau penghormatan kepadanya yang telah berbuat baik.

Ayat Al-Qur’an dan Hadist tentang perbuatan Riya’

Dalam QS. Asy-Syuura:20, Allah SWT menjelaskan, perbuatan Riya’ akan menghapus amal kebaikan. Pahala amal ibadah musnah karena digantikan oleh pujuan/penghormatan manusia.
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”.

Rasulullah Saw menyatakan, Riya’ termasuk syirik kecil, yaitu perbuatan menyekutukan Allah SWT.
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadapmu ialah syirik kecil, lalu ditanya oleh sahabat, apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Kemudian baginda bersabda: itulah Riya’. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

“Wahai sekalian manusia, jauhilah kesyirikan yang tersembunyi!” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu syirik yang tersembunyi?” Beliau menjawab, “Seseorang bangkit melakukan sholat kemudian dia bersungguh-sungguh memperindah sholatnya karena dilihat manusia.
Itulah yang disebut dengan syirik yang tersembunyi.” [HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi]

PENGERTIAN ‘UJUB

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Ujub adalah membanggakan diri, takjub, atau berbangga diri, baik muncul dalam hati saja, maupun menunjukkannya (perbuatan) kepada orang lain.
Imam Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengutip hadits: “Tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman (takjub) seseorang kepada dirinya sendiri (‘Ujub)” (HR. Imam Tabrani).

Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan, niscaya Allah SWT akan menjatuhkan martabatnya.”

Sufyan Ats-Tsauri meringkas makna ‘ujub sebagai berikut:
“Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya”.
Tingkatan Ujub yang tertinggi adalah Takabur atau Sombong, yakni menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.