Kritik Dalil (Munaqasyah al-Adillah)

Kritik Dalil (Munaqasyah al-Adillah)

Penolakan Syaikh Yusuf Qardhawi akan adanya haul. Haul yaitu bahwa zakat itu dikeluarkan apabila harta telah berlalu selama 1 tahun. Padahal telah datang sejumlah hadist yang menerangkan tentang haul. Ketentuan setahun itu ditetapkan berdasarkan hadis-hadis dari empat sahabat, yaitu Ali, Ibnu Umar, Anas dan Aisyah r.a. Namun hadist-hadist ini dilemahkan menurut pandangan Syaikh Yusuf Qardhawi. Karena Jelaslah bahwa dalam hadis tersebut terdapat banyak kekurangan. Yaitu dari pihak Haris yang diduga pembohong karena sebagian saja mengatakan hadis itu ke pihak sebelumnya, dari pihak Ashim yang dipersoalkan kejujurannya, dan dari segi cacat seperti disebut oleh Ibnu Muwaq dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar. Dan menurut Yusuf Qardhawi, Allahlah yang lebih tahu bahwa orang-orang yang menganggap bahwa hadis Ali adalah hasan, bila mengetahui cacat yang diperingatkan oleh Ibnu Muwaq yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam bukunya tersebut, pasti akan meralat pendapat mereka, dan akan menyatakan bahwa hadis tersebut betul bercacat.[30]

Oleh karena penolakan ini, maka menurut pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi, apabila seorang menerima gaji (rejeki) melebihi nisab (batasan) zakat, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Dari penolakan haul ini (karena dianggap tidak ada haul), maka Syaikh Yusuf Qardhawi mengkiyaskan dengan zakat biji-bijian. Zakat biji-bijian dikeluarkan pada saat setelah panen.[31]

Ternyata, terjadi lagi perbedaan pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa zakat profesi itu termasuk zakat mal dan pendapat kedua mengatakan bahwa zakat profesi itu tidak ada. Pendapat ekstrim bahkan menyebutkan bahwa zakat profesi adalah bid’ah (mengada-ada). Pendapat penentang zakat profesi Mereka mendasarkan pandangan bahwa masalah zakat sepenuhnya masalah ubudiyah. Sehingga segala macam bentuk aturan dan ketentuannya hanya boleh dilakukan kalau ada petunjuk yang jelas dan tegas atau contoh langsung dari Rosulullah SAW. Bila tidak ada, maka tidak perlu membuatbuat aturan baru. Di zaman Rosulullah SAW dan Salafus Sholeh sudah ada profesi-profesi tertentu yang mendapatkan nafkah dalam bentuk gaji atau honor. Namun tidak ada keterangan sama sekali tentang adanya ketentuan zakat gaji atau profesi. Bagaimana mungkin sekarang ini ada dibuat-buat zakat profesi.

Zakat profesi memang tidak disebutkan dalam hadist. Para ulama melakukan ijtihad dengan mendasarkan bahwa zaman sekarang berbeda dengan zaman Rasulullah. Bagaimana dengan nishab (batasan)-nya? Tergantung dengan kiyas (analogi) yang dilakukan. Jika diqiyaskan dengan zakat pertanian, maka nishabnya adalah 85 gram emas, dengan zakat sebesar 2,5%. Jadi diqiyaskan dengan zakat pertanian, maka nishabnya adalah 653 kg padi. Zakatnya 5%.

Kalau kita kembalikan kepada kalangan yang menganggap bahwa zakat profesi itu tidak ada, pertanyaan yang timbul kemudian bagaimana dengan prinsip keadilan? Kenapa hanya peternak dan petani saja yang wajib zakat, padahal profesi-profesi yang tidak kena zakat jauh lebih menghasilkan harta.

  1. Kesimpulan dari Perbandingan

Diantara faktor penting untuk mendekatkan jurang perbedaan antara kaum muslimin pada umumnya dan antar kelompok-kelompok aktivis Islam pada khususnya ialah: Membatasi beberapa pemahaman yang menjadi sebab perselisihan tersebut.

Seringkali suatu istilah atau pemahaman tertentu dipertentangkan dengan sengit. Padahal kalau istilah dan pemahaman tersebut dibatasi dan dijelaskan secara gamblang dan detail akan memungkinkan kedua belah pihak untuk bertemu pada “garis tengah”.

Oleh sebab itu para ulama kita selalu berusaha “membebaskan pangkal perselisihan” dalam setiap perselisihan dan perdebatan agar tidak terjebak dalam kesia-siaan. Seringkali terjadi perbedaan sengit antara dua kelompok kemudian ternyata pada akhirnya perbedaan itu hanyalah perbedaan terminologis dan tidak menghasilkan buah yang bersifat amaliyah.[32]

Sumber :

https://montir.co.id/iphone-x-mulai-dikirim/