Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia Ketika Penjajahan Jepang

Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia Ketika Penjajahan Jepang

Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia Ketika Penjajahan Jepang

Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia Ketika Penjajahan Jepang
Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia Ketika Penjajahan Jepang

Sosial

Pemerasan Tenaga Manusia

Jepang menerapkan sistem romusha yang menyebabkan penderitaan masyarakat Indonesia. Sistem kerja paksa ini ditujukan untuk membangun sarana prasarana Jepang. Jepang membuat suatu propaganda terhadap masyarakat Indonesia, agar masyarakat Indonesia tidak takut dan kemudian akan bersedia menjadi tenaga kerja paksa. Propaganda ini dilakukan dengan memuji-muji romusha itu sendiri. Kerja paksa itu sendiri, menimbulkan kemiskinan endemis, menurunnya derajat kesehatan, dan meningkatnya angka kematian serta berbagai penderitaan fisik dalam pengerahan tenaga romusha.

· Penipuan terhadap para gadis Indonesia untuk dijadikan wanita penghibur (Jung hu Lanfu) dan disekap dalam kamp tertutup.
Para wanita ini awalnya diberi iming-iming pekerjaan sebagai perawat, pelayan toko, atau akan disekolahkan, ternyata dijadikan pemuas nafsu untuk melayani prajurit Jepang di kamp-kamp: Solo, Semarang, Jakarta, Sumatera Barat. Kondisi tersebut mengakibatkan banyak gadis yang sakit (terkena penyakit kotor), stress bahkan adapula yang bunuh diri karena malu.

 

Pembentukan sistem RT

istem RT ini dinamakan Tonarigami (RT), dimana satu RT berisi ± 10 – 12 kepala keluarga. Pembentukan RT ini bertujuan untuk memudahkan pengawasan dan memudahkan dalam mengorganisir kewajiban rakyat serta memudahkan pengawasan dari pemerintah desa.

Ekonomi

Pemerasan Kekayaan Alam

Perkebunan peninggalan Belanda disita. Tidak hanya itu, Jepang juga memonopoli hasil perkebunan. Pemerintah Jepang mendapatkan 60 % sedangkan rakyat Indonesia hanya mendapatkan 40% saja. Perkebunan yang menurut mereka tidak berguna, diganti dengan buah jarak. Hutan ditebangi dengan alasan untuk digunakan tanah pertanian.
· Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki[14]
Maksud dari sistem ini adalah memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang. Konsekuensinya tugas rakyat beserta semua kekayaan dikorbankan untuk kepentingan perang. Hal ini jelas amat menyengsarakan rakyat baik fisik maupun material.

Politik

Sebelum dijajah Jepang, Indonesia telah dijajah Belanda. Jika dibandingkan dengan Belanda, dari segi politis, Jepang tidak terlalu merasuk hingga ke sendi-sendi pemerintahan. Saat dijajah Jepang, sistem hukum dan pemerintahan masih berkaca pada Belanda.

Dibandingkan dengan hukum dan pemerintahan, Jepang lebih mempengaruhi Indonesia melalui segi militer. Sebagai bagian dari politik Jepang , memanfaatkan sumber daya manusia dengan mobilisasi massa pemuda dan rakyat secara besar-besaran dalam program-program latihan semi militer. Tujuannya sebagai tenaga cadangan bagi kepentingan militer Jepang. Mobilisasi masa rakyat terbagi dalam Seinendan, Keibodan, Fujinkai dan PETA (Pembela Tanah Air) yang telah mendorong rakyat memiliki keberanian, sikap mental untuk menentang penjajah, pemahaman terhadap kemerdekaan maupun sikap mental yang mengarah pada terbentuknya nasionalisme[16] yang bukan hanya merupakan kesadaran diri suatu bang­sa,[17] namu memiliki arti penting yang menurut Mazzini, adalah sebagai jembatan persaudaraan manusia,[18] yang di dalamnya terkandung revolusi sosial, intelektual, dan moral.[19] Dan dalam era kolonial, nasionalisme mempunyai akar demokratis dibandingkan dengan negara yang tidak terjajah.[20] Kecuali itu, nasionalisme merupakan satu ideologi untuk generasi muda.

Sumber : https://blog.dcc.ac.id/contoh-teks-ulasan/