Kondisi perpindahan pusat Sriwijaya ini juga dapat ditemui di kerajaan yang ada di Jawa seperti Mataram

Dimana Letak Ibukota Sriwijaya

Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara

memang tidak bisa disangsikan lagi, hal tersebut dibuktikan dengan beberapa peninggalan sejarah yang menunjukan seberapa besarnya wilayah Sriwijaya. Wilayah Sriwijaya tentu meliputi Sumatra dan semenanjung Melayu, sebab prasastinya sampai di tanah genting Kra. Chau You Kwa dalam bukunya Chu-fan-chi memberikan tentang wilayah Sriwijaya secara terperinci tetapi kadang-kadang sukar diterapkan lokasinya. Beberapa yang agak mudah dicari lokasinya antara lain: Pong-fong = Pahang; Kilantan; Tong ya Nong = Trengganu; Sing-Ya-si-Kra = Langkasuka; Chung Mei = Muangtai; Pata-Batak; Ji-lo-ting = Jeluntung di Malaka Sun-t!o = Sunda; Pa-lim-pong = Palembang. Masih banyak lagi disebut, tetapi sukar dicari lokasinya. Dalam prasasti Leiden daerahnya disebutkan termasuk Kataha, oleh G. Coedes disamakan dengan Kedah pelabuhan di Malaya yang dalam berita disebut Kie-tch’a.

Berbagai pendapat muncul mengenai ibukota dari Sriwijaya dari berbagai tokoh. Majumdar berpendapat di sekitar Pulau Jawa sampai Ligor, Quaritch Wales berpendapat bahwa Ligor sebagai pusat Sriwijaya, Moens mengungkapkan bahwa pusat Sriwijaya di daerah Kelantan dan pindah ke daerah Muara Takus. Jika disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut muncul beberapa nama daerah yang disebutkan sebagai pusat kerajaan Sriwijaya, mulai dari Palembang, Jambi, dan Ligor. Kondisi perpindahan pusat Sriwijaya ini juga dapat ditemui di kerajaan yang ada di Jawa seperti Mataram. Hipotesis-hipotesis mengenai perpindahan pusat kerajaan ini memang menemui banyak kesulitan karena kurangnya dukungan dari peninggalan-peninggalan purbakalanya.

Soekmono kemdian mengungkapkan pendapatnya mengenai pusat ibukota Sriwijaya dengan metode pendekatan geomorfologi untuk melakukan rekonstruksi garis pantai daerah Selat Malaka. Pentingnya rekonstruksi garis pantai ini karena keadaan dahulu pasti beda dengan sekarang. Garis pantai ini adalah sebagai jejak tidak historis tapi bernilai untuk merekonstruksi suatu kejadian yang lebih menonjol dari segi-segi yang tidak langsung berkaitan dengan informasi yang semu. Tetapi kemungkinan bahwa jejak yang sama akan berguna untuk merekonstruksi itu juga tetapi dengan menggunakan pendekatan yang lain atau mementingkan aspek yang lain. Oleh karena itu hasil penyelidikan geomorfologi masih perlu dikaji dengan sumber sejarah lainnya yang kiranya dapat dipercaya seperti berita-berita dari Cina yang pernah singgah ke Sriwijaya dapat dijadikan sebagai sumber sejarah sejaman dan tidak setempat.

Dari hasil rekonstruksi tersebut diketahui bahwa kota Palembang sekarang dahulunya terletak di ujung sebuah jazirah yang berpangkal di Sekayu dan kota Jambi sekarag pada sebuah teluk yang menjorok ke dalam sampai di daerah Muara Tembesi. Soekmono juga mengungkapkan keistimewaan dari daera Jambi dimana lokasinya terlindungi di dalam teluk dan langsung menghadap ke lautan bebas yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Maka dibanding Palembang letak Jambi lebih menguntungkan sebagai pusat kota Sriwijaya.

Soekmono berpedoman kepada uraian dari Van Bemmelen berupa tanah rendah pantai timur Sumatra pada masa Sriwijaya dulu masih berpa laut dan kini berupa endapan tanah. Van Bemmelen juga mengungkapkan bahwa Pulau Busung yang terletak di muara Sungai Batang Kuantan dulunya masih berupa bagian dangkal dari laut dan kini menjadi sebuah pulau seluas 10 km. Bertambah lebarnya pantai timur Sumatra menunjukkan bahwa adanya perubahan garis pantai yang didukung pula dengan perubahan di muara Sungai Musi dan sungai Batanghari. Tempat lainnya yang diteliti ada Pekanbaru yang berada di sekitar garis Khatulistiwa dan di muara sungai Kampar dan terdapat candi Muara Takus yang sedikit berada di pedalaman. Namun, tertutupnya laut menjadi salah satu alasan untuk menjadikan Pekanbaru sebagai pusat ibukota.