Ketentuan Dalam Melihat

Ketentuan Dalam Melihat

Ketentuan Dalam Melihat

Ketentuan Dalam Melihat
Meski melihat kepada calon suami atau istrinya disunnahkan atau setidaknya dibolehkan, namun bukan berarti segalanya menjadi boleh. Tentu saja tetap ada aturan dan ketentuan yang harus dipatuhi, antara lain :

Ø Niat Ingin Menikahi

Hanya calon suami yang benar-benar berniat untuk menikahi calon istrinya saja yang dibolehkan untuk melihat. Sedangkan mereka yang cuma sekedar iseng-iseng atau coba-coba, sementara di dalam hati masih belum berniat untuk menikahi, tentu tidak dibenarkan untuk melihat.
Ø Tidak Harus Seizin Wanita
Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada ketentuan bahwa wanita yang sedang dilihat oleh calon yang ingin menikahinya harus memberi izin.[9]
d. Perawi Hadits
Nama asli Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dawsi (salah satu kabilah di Yaman), nama islam yang diberikan Nabi saw, sebagai pengganti nama masa jahiliah, yaitu Abdusysyams bin Shakhr. Kemudian dipanggil Abu Hurairah oleh Rasulullah saw. Abu Hurairah masuk islam pada tahun ke-7 Hijriyah pada tahun perang Khaibar.
Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy bin Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
Selain meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al Fadhl bin al Abbas, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al Ghifari, dan Ka’ab al Ahbar Radhiyallahu ‘anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Beliau wafat pada tahun 57 H.[10]
Jabir bin ‘Abdullah bin ‘Hamran al-Anshari, lahir di Madinah, 15 sebelum Hijriah meninggal di Madinah, 78 Hijriah pada umur 94 tahun). Adalah sahabat setia Nabi Muhammad dan keturunannya, Syiah Imam dan ia telah meriwayatkan 1.547 Hadits.
Ayahnya bernama Abdullah bin Amru, sedangkan ibunya bernama Nasibah binti ‘Uqbah. Ia bersama ayahnya dan pamannya mengikuti Bai’at al-‘Aqabah kedua di antara 70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama Islam. Ia juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, kecuali perang Uhud, karena dilarang oleh ayahnya. Setelah ayahnya terbunuh, ia selalu ikut berperang bersama Nabi Muhammad.

sumber :