Faktor Lain generasi Muda

Faktor Lain generasi Muda

Faktor Lain generasi Muda

Faktor Lain generasi Muda
Faktor Lain generasi Muda

Seorang peneliti bernama Dawyer Menyimpulkan, sebagai media visual, TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan dan informasi kedalam jiwa manusia. TV mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari yang mereka lihat dan dengar di TV, walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau, secara umum orang akan mengingat 85 % dari yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian, da 65 % setelah 3 hari kemudian ( Solihin, 2003 : 136 ). Hal ini akan sangat memudahkan remaja, yang daya ingatnya masih kuat, untuk mengadaptasi budaya barat.
Keadaan generasi muda seperti sekarang ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti berikut ini:

1) Orangtua/ Keluarga

Kondisi ekonomi yang sulit, misalnya, sering memaksa banyak orangtua mengorbankan anak-anak mereka. Banyak anak, misalnya, terpaksa-bahkan dipaksa orangtuanya-untuk bekerja pada usia dini. Yang lebih menyedihkan, mereka ada yang dipaksa bekerja sebagai PSK. Banyak pula anak-anak yang menjadi korban perceraian orangtuanya; menjadi anak-anak brokenhome yang cenderung berperilaku negatif seperti menjadi pecandu narkoba, terjerumus seks bebas, dll.

2) Media Massa, (Terutama Televisi)

Secara langsung ataupun tidak, telah ikut andil dalam mendorong berbagai kasus yang mendera anak-anak kita. Banyaknya kasus kriminalitas anak, misalnya, sering diinspirasi oleh tayangan-tayangan kekerasan dalam televisi. Demikian pula kasus-kasus seksual yang dilakukan anak-anak. Televisi, misalnya, banyak ‘mengajarkan’ pergaulan bebas dalam bentuk sinetron. Mungkin niat awalnya hanya sebatas mengangkat realitas. Namun kenyataannya, hal ini justru sering memberi semacam ‘inspirasi’ kepada penontonnya, terutama anak-anak.

3) Negara

Kebijakan keliru yang dilakukan oleh negara dalam pengelolaan ekonomi, misalnya, diakui atau tidak, telah mengakibatnya lahirnya banyak keluarga miskin. Dijualnya berbagai sumber kekayaan alam oleh negara atas nama privatisasi, misalnya, telah mengakibatkan berbagai sumber kekayaan alam negara itu dikuasai oleh asing. Akibatnya, Indonesia kehilangan pendapatan yang sangat besar untuk mensejahterakan warganya. Inilah, antara lain, yang mendorong lahirnya banyak keluarga miskin.

Kondisi ini memaksa para orangtua dari keluarga miskin untuk mempekerjakan anak-anaknya yang masih di bawah umur, bahkan di antara mereka ada yang dipekerjakan sebagai pekerja seks. Padahal, pada dasarnya, tidak akan ada orangtua yang tega membebani anaknya untuk bekerja pada usia yang belum saatnya, apalagi untuk menjadi seorang PSK. Namun, karena faktor kemiskinan, banyak orangtua tidak memiliki pilihan lain karena pemenuhan kebutuhan sehari-hari adalah tuntutan yang tidak dapat ditoleransi.

Walhasil, anak-anak pada akhirnya menjadi salah satu korban dari kemiskinan struktural yang diciptakan oleh negara. Juga soal penegakan hukum yang tidak adil, sehingga seorang koruptor tapi punya uang bisa melenggang dengan bebas tanpa hukuman, sedangkan pencopet sudah dia babak belur dihajar massa, masih juga harus masuk bui.Dari ketiga faktor di atas, hal yang paling besar berperan dalam mempercepat penyebarannya adalah peran dari media, dalam hal ini televisi terutama sinetron.

Baca juga: PPKI

Kalaulah prostitusi, kekerasan, perkelahian bila berjalan sendiri-sendiri, perkembangannya tidak mungkin bisa seperti saat sekarang ini, dimana kita bisa lihat hampir setiap wilayah mengalami dampak yang sama.Karena apa yang sebenarnya ditonton anak-anak & remaja dari TV? Anak-anak menonton acara TV apa saja karena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas: mulai dari acara gosip selebritis; berita kriminal berdarah-darah, sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis, amoral; film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam; penampilan grup musik yang berpakaian seksi dan menyanyikan lagu dengan lirik orang dewasa, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya.

Dimana makian-makian, kata-kata kotor bisa kita dengar dari sinetron yang ditonton. Bahkan adegan yang seharusnya disensor seperti ciuman dan adegan seks dapat kita lihat dengan bebas kita tonton di sinetron.Kalau film bioskop kurang memiliki dampak yang global karena hanya orang yang punya uang dan punya waktu saja yang menontonnya, itu pun harus pergi ke bioskop. Sedangkan televisi memiliki efek global yang sangat luas karena hampir setiap rumah memiliki pesawat televisi dan pastinya ditonton oleh seluruh keluarga.

Bayangkan, Di Indonesia saat ini terdapat 11 televisi nasional dan 9 di antaranya menyiarkan sinetron. Total tayang sinetron per minggu adalah 207 jam 30 menit, baik sinetron tayang ulang maupun sinetron baru, yang jam tayangnya dimulai pada pukul 7.30 WIB dan terakhir pada pukul 00.30 WIB. Kalau dihitung, setidaknya setiap tahun muncul sekira 300 judul sinetron baru. Sebuah media yang paling efektif untuk mencuci otak penontonnya. Belum lagi dampak rusaknya bahasa Indonesia dan lakon-lakon siteron remaja yang kejar tayang, sehingga mutu cerita tidak terperhatikan.Sedangkan alibi rating televisi selalu jadi argumen stasiun TV memproduksi acara-acara seperti itu. Banyaknya penonton yang menonton tayangan seperti itulah yang membuat mereka masih tetap eksis.Nah sekarang semua berpulang pada kita, akan tetap berlanjut atau kita menginginkan generasi muda yang sehat.