Ekstraksi dan Pengujian Minyak Tengkawang

Ekstraksi dan Pengujian Minyak Tengkawang
Menurut Bambang Wiyono, 2014 mengatakan bahwa dalam mengetahui kondisi yang cocok dalam pengempaan biji tengkawang sebanyak 100 gram biji tengkawang di kempa dengan metode hidraulik pada suhu kempa 100 derajat C dan tekanan kempa 25 kg/cm2 selama 30 menit. Ini mampu menyebabkan atau mengakibatkan lemak mengering sehingga mengurangi rendemen yang dihasilkan minyak tengkawang. Untuk menghindari mengeringnya lemak selama pengempaan, maka suhunya diturunkan menjadi 50-60 derajat C, dengan pengempaan 20 menit dan dengan variasi tekanan kempa menjadi 75 kg/cm2.
Tetapi peningkatan tekanan kempa pada mulanya menaikkan renedemen lemak yang dihasilkan, kemudian menurun. Penurunan rendemen lemak ini mungkin disebabkan adanya kesempatan lemak tengkawang mengering pada saat proses pencapaian tekanan kempa yang diinginkan, karena untuk mencapai tekanan kempa 75 kg/cm2 diperlukan waktu yang lebih lam dibandingkan waktu untuk mencapai tekanan kempa 50 kg/cm2, sehingga hal ini memberikan kesempatan pada lemak yang telah dikeluarkan dari bahan untuk mengering (Wiyono, 2014).

Sifat fisioko-kimia secara umum minyak tengkawang

Sifat fisioko-kimia secara umum minyak tengkawang, yaitu titik cair mula-mula (30-36 derajat C), titik cair akhir (35-39 derajat C) titik beku (28-32 derajat C) titre test (50-52), indeks bias 40 derajat (45-47), bilangan penyabunan (188-207), bahan tidak disabun (0,7-2%), bilangan iod (29-38), bilangan bartya (8-15), dan asam lemak (5-25).
Minyak tengkawang mempunyai senyawa asam lemak bebas yang merupakan hasil dekomposisi trigliserida karena proses hidrolisis minyak. Asam lemak bebas ini bereaksi membentuk sabun dengan larutan alkali. Nilai bilangan asam ini dapat digunakan untuk menentukan kualitas lemak. Semakin tinggi bilangan asam yang diakndung dalam minyak, semakin tinggi pula tingkat kerusakan minyak tersebut.
Menurut Bambang Wiyono, 2014 bahwa hasil bilangan asam lemak tengkawang yang dihasilkan dari berbagai tingkat tekanan kempa menunujukan bahwa lemak tengkawang yang dikempa pada 50 kg/cm2 mempunyai tingkat kuliatas yang lebih baik dibandingkan dengan lemak yang dihasilkan pada kedua tingkat pengempaan.
Sifat lemak tengkawang menurut (Penelitian Bambang Wiyono pengolahan minyak tengkawang, 2014).
  • Sifat lemak tengkawang untuk tekanan kempa 25 terdiri dari rendemen (17,70), kadar asam (33,83), kadar asam lemak bebas (17,12), bilangan penyabunan (81,23), dan bilangan iod (7,42).
  • Sifat lemak tengkawang untuk tekanan kempa 50 terdiri dari rendemen (28,35), kadar asam (28,23), kadar asam lemak bebas (14,28), bilangan penyabunan (176,07), dan bilangan iod (21,95).
  • Sifat lemak tengkawang untuk tekanan kempa 75terdiri dari rendemen (23,85), kadar asam (33,79), kadar asam lemak bebas (17,09), bilangan penyabunan (129,81), dan bilangan iod (19,56).
Lemak tengkawang mengandung asam lemak bebas ataupun masih terikat dalam gliserida. Dalam penentuan bilangan penyabunan seluruh asam lemak ini disabunkan dengan cara mereaksikan dengan larutan basa alkali disertai dengan pemanasan. Pada penyimpanan dan perebusan biji tengkawang terjadi proses  oksidasi maupun hidrolisis dalam bahan sehingga terbentu rantai yang lebih kompleks, terutama aldehida, keton dan asam lemak rantai pendek. Proses oksidasi ini  terjadi pula pada aldehida sehingga menghasilkan asam lemak rantai pendek.
Dengan demikian jumlah asam lemak yang dihasilkan lebih tinggi. Perpaduan anatara nilai bilangan penyabunan yang tinggi rendahnya bilangan asam menunjukkan bahwa tingginya asam lemak masih terikat dalam trigliserida. Dan ini menunjukkan minyak atau lemak tersebut mempunyai tingkat kerusakan yang rendah. Menurut Bambang Wiyono, 2014 bahwa hasil anilsis  lemak yang dihasilkan pada tekanan kempa 50 kg/cm2 mempunyai bilangan penyabuanan yang tinggi dan bilangan asam rendah diabandingkan dengan lainnya. Hal ini menunujukkan bahwa lemak yang dihasilkan pada pengempaan 50 kg/cm2 memiliki kulitas yang lebih baik dibandingkan dengan kualitas lemak hasil pengempaan lainnya.
Bilangan Iod ukuran ketidakjenuhan atau banyaknya ikatan rangkap yang terdapat pada asam yang menyusun gliserida. Ikatan rangkap pada asam lemak dapat bereaksi secara adisi dengan hidrogrn, oksingen, halogen dan sulfur yang akan menuerunkan bilangan iodnya. Bilangan iod merupakan indiktor tinggi rendahnya tingkat kerusakan lemak atau kualitas lemak.